Efektivitas Pelaksanaan Pembelajaran Kombinasi Pada Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia

 Efektivitas Pelaksanaan Pembelajaran Kombinasi Pada Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia

 

Penulis : Mario Hermawan Setiadi

Kelas : XII MIPA 5

Nomor Absen : 16

 

Pada masa ini, hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia sedang mengalami pandemi Covid-19. Virus tersebut telah memakan korban pada lebih dari 181 negara, dengan jumlah mencapai 10.275.481 orang terinfeksi. Jumlah korban meninggal pun telah mencapai 505.071 orang, dan pasien sembuh mencapaib sebanyak 5.577.055 orang (Worldometers, 2020). World Health Organization (WHO) telah lama menetapkan bahwa virus covid-19 sebagai pandemi karena terjadi penyebaran virus yang sangat cepat. Wabah ini membawa pengaruh yang sangat besar pada semua sektor kehidupan. Semua sektor kehidupan menjadi terganggu. Bahkan, beberapa bulan ke belakang, nyaris semua sektor terhenti. Hanya ada beberapa sektor tertentu yang masih melaksanakan, itu pun dilakukan secara bergiliran dan dengan protokol kesehatan yang ketat.

 

Sektor pendidikan merupakan salah satu yang terkena dampaknya. Semua sekolah tidak bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka sebagai mana mestinya. Semua dipaksa berubah harus menjadi kegiatan belajar daring. 

 

Dalam menghadapi hal ini, pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai dinas untuk merumuskan metode yang tepat untuk mengatasi dampak buruk yang terjadi pada sektor pendidikan, sembari memantau grafik penyebaran Covid-19 di Indonesia. 

 

Di akhir 2021 ini, grafik penyebaran Covid-19 di Indonesia sudah melandai secara konstan dan signifikan. Mengingat hal tersebut, pemerintah melalui Menteri Pendidikan bersamaan dengan Keputusan Presiden memutuskan untuk memberlakukan Pembelajaran Kombinasi (Blended Learning), yaitu kombinasi antara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Merujuk pada ditpsd.kemdikbud.go.id, Presiden Joko Widodo sendiri sudah memberikan arahan belajar tatap muka hanya akan dilaksanakan 2 hari dalam seminggu dan masing masing 2 jam dengan peserta didik 25%.

 

Pemberlakuan Pembelajaran Kombinasi yang mengakomodir PTM Terbatas dan PJJ ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat. Bagaimanakah keefektifan pelaksanaan Pembelajaran Kombinasi yang kurang lebih telah berjalan selama 5 bulan di akhir 2021?

 

Sistem Pembelajaran Kombinasi dinilai jauh lebih efektif dibanding sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sudah diterapkan sedari awal pandemi Covid-19. Sistem ini dinilai jauh lebih efektif karena waktu yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran lebih optimal karena Pembelajaran Kombinasi masih mengakomodir Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang bersifat fleksibel pada aspek waktu dan tempat pelaksanaan. Selain waktu yang optimal, siswa juga dapat berinteraksi secara langsung dengan guru maupun sesama siswa dalam kegiatan pembelajaran pada saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas berlangsung. Hal ini menyebabkan materi yang disampaikan guru dapat dipahami lebih baik oleh siswa dibanding ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diberlakukan. Siswa pun dapat menanyakan materi-materi yang tidak dipahami ketika PTM berlangsung. Hal ini dapat mencegah efek learning loss yang sebelumnya dikhawatirkan terjadi apabila Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara penuh terus menerus dilakukan dalam waktu yang lama.

 

Pembelajaran Kombinasi yang tetap mengakomodir penggunaan teknologi pembelajaran berupa aplikasi Learning Management System (LMS) seperti aplikasi Google Classroom dan aplikasi khusus sekolah masing-masing, dalam hal ini sekolah penulis, yaitu aplikasi SMAN 2 Cimahi, dapat menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang saat ini sudah berorientasi pada teknologi.

 

Namun, bukan berarti sistem Pembelajaran Kombinasi tidak memiliki kelemahan. Kelemahan dari sistem Pembelajaran Kombinasi salah satunya yaitu materi pembelajaran yang disampaikan ketika Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas menjadi terbatas dan singkat yang dikarenakan waktu PTM yang masih terbatas. Selain itu, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang lekat dengan rendahnya pengawasan dalam kegiatan pembelajaran menyebabkan tingkat kedisiplinan dan kejujuran siswa menurun, terlebih ketika siswa mengerjakan tugas dan ujian secara jarak jauh.

 

Dibalik kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh sistem Pembelajaran Kombinasi (Blended Learning), sistem ini sudah seharusnya menjadi jawaban terbaik pemerintah untuk menghadapi permasalahan yang timbul dalam sektor pendidikan akibat pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung. Sistem kombinasi yang mengombinasikan PTM dan PJJ dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya, menghasilkan satu sistem yang efektif dan dapat mengakomodir kebutuhan pendidikan sembari menjaga penyebaran Covid-19 tetap terkendali dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat ketika PTM Terbatas berlangsung. Oleh karena itu, sebagai masyarakat dan pelajar Indonesia, sudah seharusnya kita mendukung upaya yang telah diusahakan pemerintah dengan cara tetap mengikuti kegiatan dan aturan yang ada, sehingga tujuan baik pemerintah yang ingin generasi pelajar Indonesia tidak terkena dampak learning loss dan dapat menjadi generasi emas kelak.

Komentar