Luluhnya Tabiat Siloam Karena Galunggung
Nama : Mario Hermawan Setiadi
Kelas : XII MIPA 5
Absen : 17
Luluhnya Tabiat Siloam Karena Galunggung
Kala itu, di hari Senin, tanggal 5 April 1982, saat waktu siang di hari senin yang terik itu, aku sedang bersantai menikmati nasi goreng yang baru saja dimasak oleh Ibuku sambal meminum es teh dengan es yang sangat banyak. Ibuku menambahkan es yang sangat banyak di gelasku karena pada hari itu, cuaca terasa sangat panas. Kala itu, aku dan keluargaku sedang berlibur ke Tasikmalaya, tepatnya ke kediaman nenekku. Sebelum kami sekeluarga berlibur, nenek sudah memperingatkan pada ayah untuk menunda rencana liburan karena pada saat itu, Gunung Galunggung sudah mengalami kenaikan aktivitas vulkanik. Namun, ayah tetap pergi karena yakin bahwa tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.
Saat aku akan menyimpan piring, terdengar suara gemuruh yang sangat kencang dari arah utara. Seketika kuingat bahwa bagian utara rumah nenek berbatasan dengan area Gunung Galunggung. Aku seketika berteriak. Ayah dan kakek berteriak panik menyuruh kami sekeluarga keluar dari rumah. Alangkah kagetnya diriku ketika melihat kubah api dari arah gunung, beserta kilatan petir dari langit. Kubah api tersebut nampak seperti air mancur api yang keluar dari puncak gunung tersebut. Aku berteriak ketakutan dan bersiap-siap mengambil barang penting dan segera keluar dari rumah dan menyelamatkan diriku dan keluarga dengan mobil yang dibawa ayah.
“Yah, ini gimana, kita harus kemana?” ucapku sambil memasukkan barang-barangku ke dalam mobil dengan rusuh. Ayah yang terlihat masih panik mengabaikan pertanyaanku dan langsung menyuruhku masuk ke dalam mobil. Ibuku yang masih terlihat kebingungan pun bertanya hal yang sama pada ayahku. “Kita kabur saja, gatau kemana pokoknya yang jauh dari sini, ayah takut liatny api gitu.” Kami sekeluarga hanya menurut apa kata ayah dan diam melihat ayah mencoba menyusuri rute perjalanan yang masih aman dari ganasnya lahar Galunggung.
Aku hanya bisa melihat orang-orang di luar mobil berlarian tak tentu arah. Bukan sembarang arah, namun arah yang sama-sama menjauhi daerah gunung. Terdengar banyak orang yang berteriak sambal berlari ketakutan. Kaca jendela yang masih terbuka menyisakan sayup-sayup suara bayi menangis ketakutan. Kala itu, pikiranku sudah benar-benar kosong. Aku hanya bisa menatap jalan yang semakin gelap. Ya, hujan abu sudah semakin kencang dan abu yang dibawa hujan sudah semakin tebal. Wiper mobil ayah pun sudah mulai kewalahan menyingkirkan abu-abu tersebut. Cairan wiper yang biasa digunakan untuk membersihkan debu kaca pun sudah habis dipakai untuk menyingkirkan abu yang menempel pada kaca.
Tak lama kemudian, suasana terang benderang siang terik pun seketika berubah menjadi gelap gulita layaknya malam hari. Tak lain dan tak bukan, itu semua akibat abu vulkanik Gunung Galunggung yang semakin banyak tiap waktunya. Lampu mobil ayah yang sangat terangpun mendadak seperti tidak ada gunanya ketika abu menerjang mobil dengan kencangnya. Kakek dan nenek dalam mobil hanya bisa berteriak takbir tanpa henti, yang membuat aku semakin ketakutan. Benar-benar mencekam kala itu. Aku hanya bisa menangis ketakutan kala itu.
Tak lama kemudian. mobil pun bergoyang. Ayah pikir memang jalannya berbatu, namun, ayah mencoba memberhentikan mobilnya sejenak. Mobil tetap saja bergoyang walau sudah berhenti. Kami sekeluarga pun makin panik. Ya, gempa tektonik pasca letusan ternyata sedang terjadi. Ibuku yang daritadi hanya menunduk pun sekarang ikut berteriak takbir bersama kakek dan nenek di dalam mobil. Keadaan di dalam mobil pun semakin tegang. Ayah pun semakin memacu mobilnya supaya cepat sampai di daerah yang cukup aman. Namun, laju mobil ayah yang sudah kencang sebelumnya tetap saja kalah akan lahar panas yang dengan cepatnya menyapu jalan yang akan dilalui ayah.
Tanpa pikir panjang, ayah langsung mengganti rutenya. Tak main main, ayah langsung menerobos jalan tanah berbatu yang terjal demi turun dari area gunung yang sudah semakin dipenuhi lahar. Ternyata, di depan ayah sudah ada yang menempuh jalan tersebut. Sebuah truk terbuka sudah lebih dahulu melewati jalan itu. “Untung saja ada truk itu, ayah jadi gak terlalu panik jadinya.” ucap Ayah sambil mengucap syukur. Aku melihat ayah dari kaca spion, dan terlihat raut muka ayah yang terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.
Aku melihat kearah truk. Alangkah kagetnya ketika aku melihat Bu Manti disana. Sebelumnya, Bu Manti adalah tetanggaku, sekaligus ibu dari teman sekelasku, Rina.
“Dek, lihat, itu kayaknya mobilnya Pak Budi. Coba liat deh, bener apa enggak?” ucap Bu Manti pada Rina dari dalam kabin truk yang tertutup terpal biru. Rina pun seketika mengangguk kegirangan. Dia senang sekali tetangganya selamat dari banjir lahar panas nan merah itu. “Alhamdulillah ya Bu, nambah lagi orang yang kita kenal selamat dari lahar merah itu.” ucap Rina sembari bersyukur.
Namun, seketika ayah Rina, yaitu Pak Siloam, menyela Rina. “Gausah lebay, yang penting kita selamat juga alhamdulillah. Orang lain ya bodo amat, bukan urusan kita juga.” ucap ayah Rina sembari memasang muka ketus. Seisi truk pun mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Siloam. Nenek Bita, yang merupakan tetua kampung itu, murka mendengar ucapan Pak Siloam.
“Kalau semua manusia seperti kamu, gak akan ada yang selamat. Semuanya egois menyelamatkan diri sendiri. Dasar, manusia tidak berguna!” ucap Nenek Bita dengan emosi marah khasnya. Kata-kata Nenek Bita memang selalu berlebihan ketika marah, namun, dengan kata-katanya, semua orang yang pernah dimarahinya akan langsung sadar akan kesalahannya dan langsung meminta maaf atas perbuatannya.
Namun, hal itu tampaknya tidak berlaku pada Pak Siloam, yang sedari dulu sudah dikenal keras kepala dan tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan. Pak Siloam hanya terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan seakan cuek dengan perkataan Nenek Bita yang terdengar sangat menyakitkan itu. Tidak ada orang yang heran akan kelakuan Pak Siloam, karena watak egois dan cueknya sudah menjadi rahasia umum seantero kampung. Setelah itu, Rina dan Ibunya hanya terdiam. Mereka sudah tidak lagi berani mengatakan apapun. Mereka sudah malu akan kelakuan ayahnya yang seperti itu, tidak punya rasa empati dan egois.
Tak terasa, hari sudah sore. Jam pada mobil ayah sudah menunjukkan jam 4. Ya, itu tandanya, kami semua harus menepi ke masjid terdekat untuk melaksanakan shalat Ashar. Kedua kendaraan tersebut sudah menempuh 2 jam perjalanan melalui jalanan terjal yang jarang dilalui penduduk sekitar. Mobil ayahku dan juga truk yang berada di depan mobil ayahku sudah sampai di suatu masjid yang terletak di rute terjal tersebut. Masjid tersebut adalah Masjid Darussalam.
Di daerah sekitar masjid, abu vulkanik terlihat lebih sedikit dibanding ketika kami berada di jalanan terjal sebelumnya. Kakek, nenek, ibu, ayah, dan aku segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam area masjid. Lantai masjid sudah terasa penuh dengan abu. Aku yang sedari tadi kegerahan di dalam mobil segera berlari menuju tempat wudhu untuk mengambil wudhu sembari menyegarkan kepala dan mukaku yang sedari tadi sudah panas.
Bu Manti dan pengungsi yang berada di truk segera keluar dari truk untuk turut serta melaksanakan shalat Ashar di masjid tersebut. “Eh Bu Sinta, sudah lama gak ketemu yah, tadi saya panik banget jadi langsung aja ikut truk yang lewat, daripada saya sekeluarga tidak selamat.” ucap Bu Manti sembari menyapa Bu Sinta. “Eh Bu Manti, alhamdulillah ya Bu, gapapa yang penting kita semua selamat Bu, mau pakai apapun asal selamat juga udah Alhamdulillah Bu.” ucap Bu Sinta.
Setelah itu, aku, keluargaku, dan orang-orang yang sebelumnya menumpang truk untuk mengungsi melaksanakah shalat Ashar berjamaah. Kakekku yang biasanya menjadi imam di masjid dekat rumahku, kali ini menjadi imam kembali. Setelah kami semua melaksanakan Shalat, kami semua pergi melanjutkan perjalanan menuju pusat kota yang letaknya jauh dari area gunung. Sebelum pergi, ayah menerima kabar dari ajudannya, bahwa di pusat kota terdapat area pengungsian. Ayah lantas memberi tahu supir truk, lalu mereka bersepakat untuk pergi ke pusat kota untuk mengungsi.
Kali ini, aku sudah mulai merasa lelah. Panik seakan menghilang, padahal, satu jam yang lalu, takbir selalu kuucapkan karena aku sangat panik. Jam sudah menunjukkan pukul 4.30. Aku memutuskan untuk tidur untuk sekejap di paha ibuku. Saat kumulai tidur, aku merasakan belaian tangan ibu yang membelai halus rambutku. Mungkin, itulah alasan mengapa aku dapat tidur dengan tenang, walaupun situasi sedang mencekam seperti ini.
Aku terbangun ketika mataku tersorot cahaya matahari petang yang menembus jendela. Sayup-sayup adzan juga sudah terdengar dari dalam mobil. “Ibu, kita sudah sampai kah?” tanya aku sembari setengah sadar. “Ini baru sampai nak. Ayo bangun, kita siap-siap mengambil barang dari bagasi.” ucap Ibu lembut. Aku yang masih setengah sadar ini hanya diam dan langsung turun dari mobil, mengarahkan badanku yang masih lemas ke arah bagasi belakang mobil.
Ayah, kakek, dan nenek sudah berada di dalam pengungsian. Aku dan Ibu menyusul sembari membawa barang-barang bawaan dari dalam mobil. Tak lama kemudian, rina menghampiri ibuku dan menawarkan untuk membantu kami membawa barang dari bagasi. Ibuku dan aku yang sudah mulai kewalahan segera mengiyakan tawarannya. Rina pun langsung membantu kami mengambil barang dari bagasi mobil ayah.
Tak lama setelah itu, Bu Manti turun dari truk dan langsung menghampiriku. “Eh Andi, ayo kita makan bareng. Ini ibu bawa makanan dari rumah, nanti ajak ya ibu ayah kakek nenek kamu, ayo kita semua makan bareng-bareng” ucap Bu Manti ramah.
Lalu, aku langsung menghampiri keluargaku dan langsung menyampaikan ajakan Bu Manti untuk makan bersama. Kakek, nenek, ayah, dan ibuku secara serempak berkata “Hayu!” Ya, mereka semua sudah merasa lapar karena sedari pagi belum sempat makan, hanya aku saja yang baru memakan nasi goreng pada siang harinya.
Setelah itu, kami sekeluarga bersama keluarga Bu Manti makan bersama di tengah tenda pengungsian. Kebetulan, pengungsian disini masih sedikit orang, sehingga kami leluasa makan tanpa perlu menawari orang-orang lain yang tidak kami kenal. Kami pun makan bersama dengan nikmatnya. Kami seakan lupa bahwa kami baru saja melewati bencana yang hampir membahayakan nyawa kita. Panik, ketakutan, dan segala hal yang kami alami ketika di perjalanan seakan hilang begitu saja.
Setelah makan, kami langsung melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid dekat tenda pengungsian. Setelah Shalat, ayah dan kakek mengajakku untuk pergi ke swalayan Buana untuk membeli makanan, sembako, dan keperluan kami untuk beberapa hari atau minggu kedepan di tenda pengungsian. Aku pun segera masuk ke dalam mobil ayah bersama kakekku untuk pergi ke swalayan Buana.
Sesampainya di sana, ayahku membeli banyak sekali makanan, sembako, dan keperluan lainnya. Aku yang keheranan pun bertanya pada ayah, bahwa untuk apa kita membeli barang sebanyak ini. Ayahku terdiam sejenak, lalu berkata “Ini untuk persediaan kita selama beberapa minggu di pengungsian. Selain itu, mungkin kita juga bisa berbagi kepada orang lain yang butuh dengan barang ini, tetapi mereka tidak punya uang atau tidak bisa pergi ke swalayan semudah kita sekarang.”
Singkat cerita, ayahku sudah membeli semua keperluan, dan kami bertiga masuk ke dalam mobil untuk kembali ke tempat pengungsian. Sesampainya di tempat pengungsian, ayahku yang membawa banyak makanan, sembako, dan keperluan lainnya berinisiatif untuk membagikannya sebagian kepada keluarga Pak Siloam. Tetapi, ayahku takut Pak Siloam mentah-mentah menolak bantuan yang diberikan oleh ayahku.
Aku mencoba meyakinkan ayah untuk mencoba terlebih dahulu, siapa tau Pak Siloam tidak menolaknya. Sebelumnya, ayahku berpikiran lain, yaitu dengan memberi bantuan melalui Bu Manti, istri Pak Siloam. Namun, Pak Siloam sudah dikenal selalu mengecek apa yang didapatkan istrinya dan dari siapa. Bila dia tidak menyukai pemberian yang istrinya dapatkan, ia biasanya akan langsung membuangnya dan memarahi orang yang memberinya. Tabiat buruk Pak Siloam ini sudah melegenda di kalangan penduduk kampung. Para warga sudah terbiasa dengan tabiat buruk Pak Siloam.
Akhirnya, ayahku meyakinkan dirinya untuk memberikan beberapa makanan, sembako, dan keperluan lain pada Pak Siloam, dengan harapan, ia dapat menerimanya dengan sepenuh hati. “Ndi, temenin bapa ngasihin ini ke Pak Siloam, jadi kalau bapa dimarahin, bapa ada temannya.” Ucap bapa usil kepadaku. Namun, aku langsung mengiyakan ajakan ayahku.
Tanpa berlama-lama, aku dan ayahku langsung mengemas barang yang akan diberikan pada Pak Siloam. Aku sibuk mencari plastik yang muat dimasukki barang-barang itu, hingga aku mencari ke kolong jok mobil ayahku. Usahaku tidak sia-sia, aku menemukan banyak plastik berukuran besar yang dapat menampung barang-barang yang akan dikemas untuk diberikan kepada Pak Siloam.
Setelah semua barang dimasukkan ke dalam plastik, aku dan ayah pergi ke tenda sebelah untuk memberikan barang ini pada Pak Siloam dan keluarganya. Bukan tanpa alasan kami memilih Pak Siloam untuk diberikan. Keluarga Pak Siloam adalah salah satu keluarga yang bisa terbilang kurang mampu, namun seringkali mereka memaksakan diri mencukupi kebutuhannya, hingga menolak bila ada orang yang memberikan bantuan untuk mereka.
Benar saja, ketika ayah mengatakan bahwa ada sedikit makanan untuk Pak Siloam, dia menolak mentah-mentah. “Ah ga perlu pak, saya masih bisa beli ke swalayan. Bapak pikir saya tidak punya uang untuk mencukupi kebutuhan dasar saya dan keluarga saya?” Ucap Pak Siloam pada ayah dengan nada yang ketus. Aku yang sebelumnya sudah mengirakan hal ini terjadi, merasa maklum. Memang, sekali batu tetaplah batu. Susah sekali Pak Siloam untuk berubah, walau dengan hanya menolak secara halus. Ucapan Pak Siloam yang tajam seperti silet itu akan membuat setiap orang yang berniat baik berbagi kepadanya, malah menjadi sakit hati dan merasa tidak dihargai.
Keesokan paginya, pada pagi yang masih buta, Pak Siloam terlihat sudah berjalan keluar dari tenda. Ya, dia sudah berniat jalan ke swalayan pada pagi itu untuk membeli keperluannya. Namun, ia juga sadar uangnya kurang untuk membeli itu semua. Tak putus asa, dia terus berjalan dan berharap bahwa uangnya cukup untuk setidaknya membeli kebutuhan keluarganya untuk beberapa hari saja.
Singkat cerita, Pak Siloam sudah membeli beberapa kebutuhan keluarganya untuk beberapa hari. Namun, ketika Pak Siloam dalam perjalanan pulang menuju tenda, sebuah delman menabraknya hingga Pak Siloam terjatuh. Untung saja Pak Siloam tidak terluka. Namun, naasnya, seluruh barang belanjaan Pak Siloam jatuh ke dalam jurang.
Setibanya Pak Siloam di tenda pengungsian, dia dengan malu memohon maaf pada ayahku. Ayahku yang kasihan melihatnya, langsung memaafkan Pak Siloam atas perkataannya kemarin, dan langsung memberikan plastik yang berisi keperluan sehari-hari untuk keluarga Pak Siloam.
Dari judulnya aja udah kerenn!! Isinya apalagii!! Pokoknya out of the box bgt dehh gilaa!! Terus semangat berkaryanya yaa
BalasHapusCeritanya bagus sekali, kata-kata nya pun mudah dipahami. Ceritanya juga memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya. (Muhammad Fauzan A.)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMario keren banget! Dari segi pemilihan bahasa dan alur ceritanya menarik. Dan rame juga buat dibaca.
BalasHapus